Perbekalan Akhirat

Seprti halnya di kisahkan di qolbunsalim.com, dahulu kala hiduplah seorang bernama Bahlul. Dalam bahasa arab, bahlul berarti bodoh atau dungu. Bagaimana mungkin seorang menjadikan bahlul sebagai namanya. Pertanyaan ini yang menggelitik hati seorang raja.

Dengan penuh rasa penasaran, sang raja memanggil Si Bahlul untuk ‘ditanyai’. “Mengapa namamu Bahlul?”

“Memang, saya Bahlul,” jawab bahlul apa adanya.

“Apakah tidak ada orang lain yang pantas menyandang nama tersebut?”

“Setahu saya tidak ada yang pantas dan layak lagi kecuali saya, baginda.”

Terkesan dengan jawaban polos Bahlul, sang raja memberikan hadiah berupa sebuah tongkat dan sebuah pesan kepada Bahlul. “Jika suatu saat nanti, kau bertemu dengan orang yang lebih dungu darimu, maka kau wajib menyerahkan tongkat ini padanya,’ titah sang raja. Bahlul menganggukkan kepala pertanda setuju.

Lama berpisah dengan raja, tiba-tiba Bahlul mendengar berita baginda sedang sakit dan diramalkan akan segera ‘lewat’. Dengan susah payah Bahlul menemui sang raja. Tentu saja dengan membawa tongkat pemberian yang dibanggakannya.

“Wahai baginda, bagaimana kabarmu?”

“Aku akan pergi jauh, Bahlul. Jauh sekali, tak akan kembali,” jawab raja dengan suara berat.

“Pergi jauh? Apakah baginda sudah menyiapkan bekal?” tanya Bahlul yang tampaknya tak mengerti isyarat kematian sang raja.

“Dalam perjalanan yang satu ini, wahai bahlul, kau tidak bisa membawa bekal,” kata sang raja.

Tiba-tiba bahlul berdiri mendadak. Diraihnya tongkat yang sejak tadi bersandar. Dengan cepat tongkat itu diberikan pada sang raja. “Ternyata baginda lebih bodoh dari saya. Saya bahlul, tapi saya mengerti setiap perjalanan selalu memerlukan bekal. Apalagi perjalanan jauh yang tak akan kembali!

Imam Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah SAW berkata, “Ada tiga waktu yang paling mengerikan yang harus dialami anak Adam : (1) saat ketika ia menyaksikan malaikat maut, (2) saat ketika ia bangun dari alam kuburnya, dan (3) saat ketika ia berdiri di hadapan Allah SWT dalam keadaan tidak jelas apakah akan kesurga dan ke neraka.”

Allah SWT menjelaskan kepada kita dua jenis kematian. Pertama, kematian seorang mukmin yang shaleh : “Orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan baik, para malaikat berkata, “Sejahteralah bagi kalian, masuklah ke dalam surga dengan apa yang sudah kalian amalkan.” (Qs. An-Nahl 16:32). Allah SWT akan menyapanya dengan mesra, “Hai jiwa yang tentram, kembalilah kepada karunia Tuhanmu dengan penuh keridhaan dan diridhai. Masuklah dalam kelompok hamba-hamba-Ku, masuklah ke surga-Ku.” (Qs. Al-Fajr 89 : 27-30).

Kedua, kematian orang yang durhaka. Simaklah pernyataan Allah, “Bagaimana keadaan mereka ketika malaikat mematikan mereka seraya meremuk-redamkan muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu karena mereka mengikuti apa yang dimurkai Allah dan membenci keridhaan-Nya. Lalu Allah hapuskan semua amalnya.” (Qs. Muhammad 47: 27-28). “Orang-orang yang dimatikan malaikat dalam keadaan berbuat dosa (menzalimi diri mereka), maka mereka menyerah diri seraya berkata, “Kami tidak melakukan perbuatan jahat.” (Malaikat menjawab), “Kamu justru melakukannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuiapa yang kamu kerjakan. Maka masuklah (kalian) kepintu-pintu neraka jahanam, kekal didalamnya.’ Sungguh sangat buruk tempat orang-orang yang menyombongkan diri.” (Qs. An-Nahl 16 : 28-29).

Dari kisah diatas, kita mengamati ada dua pemahaman yang saling bertolak belakang antara raja dan bahlul. Maksud raja ialah jika seseorang mati ia tidak bisa membawa harta kekuburan. Sementara bahlul memahami bahwa seseorang perlu bekal yaitu amal perbuatan semasa hidupnya.

Mungkin bahlul tak mengerti isyarat sang raja. Tapi sungguh bahlul benar belaka. Tak ada perjalanan yang tak memerlukan bekal. Apalagi perjalanan menuju stasiun akhirat yang kekal nan abadi.

Tahukah kita bekal apa yang paling baik buat hari akhir nanti? Pada suatu hari Rasulullah SAW melewati pekuburan. Beliau menyapa penghuni kubur, “Hai ahli kubur, tahukah kalian apa yang terjadi sepeninggal kalian? Istri-istri kalian sudah dinikahi orang lain, rumah-rumah kalian sudah dibagi-bagikan. Apakah kalian mau menceritakan apa yang kalian alami?” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya mereka bisa menjawab, mereka akan berkata bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa.”

Banyak cerita bijak tentang hidup, kata mutiara dan motivasi serta kumpulan cerita inspiratif lainya di CeritaBijakMotivasi.Com yang bisa Anda baca dilain waktu seperti halnya cerita bijak Perbekalan Akhirat diatas Kawan!. Oh ya perlu di ketahui cerita inspirasi dan motivasi disitus ini merupakan sumbangan pengunjung serta dari banyak sumber, dan hak milik dari pengarang, pencipta serta penulis aslinya.

Setelah membaca cerita bijak Perbekalan Akhirat diatas, tentunya ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai media pembelajaran dan membuat hidup kita lebih baik bukan?, so jika Anda menyukai cerita bijak islami, kisah bijak islami, cerita bijak, cerita motivasi kisah nyata, kumpulan cerita bahlul, perbekalan akhirat cerita teladan dan kisah bijak ini, dan merasa berguna, silahkan beritahu teman anda dan orang lain dengan menyebarkannya lewat Facebook dengan meng KLIK tombol di bawah ini.


Cara Cepat Hamil