Sepucuk Surat Keyakinan

lampu jamur unik

Kisah Sepuucuk Surat –  Parjo adalah bapak dengan dua anak. Dia terkenal sebagai petani lulusan Sekolah Rakyat yang pintar, religius, pendiam, pekerja keras, dan setia. Istrinya meninggal ketika melahirkan Sari. Penghasilan yang tidak menentu, ia menyusukan Sari ke wanita-wanita desa. Semenjak itu hidupnya hanya untuk anak-anaknya. Tidak ada niatan sedikit pun untuk menikah lagi. Dengan umur yang masih terbilang muda, dia bunuh nafsu kepada wanita.

“Hari raya nanti, apakah Mas Tejo pulang Pak?” tanya Sari.

“Mungkin,” jawab bapaknya.

“Sari akan masak lalapan kesukaan Mas Tejo,” ujar wanita itu penuh senyum. Parjo tidak menjawab dan hanya melangkahkan kakinya ke kamar untuk istirahat sejenak sebelum azan maghrib.

Hari itu Sari bahagia. Bukan lantaran bapaknya panen besar minggu kemarin. Kado dari Mas Tejo yang dia tunggu. Hari itu telah genap usianya empat belas tahun. Dia tak sabar menanti kiriman hadiah dari Jakarta. Tiga tahun Mas-nya itu memberikan hadiah ulang tahun.

Tahun pertama Mas-nya mengirim tas sekolah dengan kartu ucapan yang cantik dan sebuah pesan singkat di dalam: “Jangan malas, Dik. Sekolah yang rajin dan jangan lupa bantu bapak”. Ulang tahun keduabelas, Sari mendapatkan buku tulis dan bolpoin. “Untuk apa Mas-mu itu memberi buku tulis dan bolpoin? Bapak kan sudah membelikanmu buku dan pensil,” ujar Parjo mengomentari kado dari Tejo. Sari membiarkan komentar bapaknya.
Perhatiannya saat itu adalah kartu ucapan bergambar bunga-bunga.

“Semoga buku ini mengantarkan prestasi. Sholat lah tepat waktu. Salam buat bapak” begitu isi kartu dari Tejo. Tahun kemarin, radio kecil menjadi kado paling spesial untuk Sari. Parjo hanya melongok kagum melihat radio pemberian Tejo yang tergolong barang mewah. “Untuk Sari, adik yang paling manis. Hiburan buat Sari dan Bapak, ketika melepas lelah seharian sepulang dari sekolah dan sawah” kata Sari membacakan isi kartu kepada Bapaknya.

Gelap merayap di sekitar rumah keluarga petani itu. Rumah di pinggir persawahan desa dimana jarak dengan rumah lain berjauhan. Binatang-binatang sawah di depan rumah mulai beraktifitas. Jangkrik mengawali sapaan yanag kemudian disahut binatang lain. Kunang-kunang keluar memberi penerangan di jalan berbatu yang lengang. Waktunya ngengat hilir mudik. Berteman cahaya temaram teplok, Sari menatap erat paras wajah ibunya terbingkai foto hitam putih yang telah memudar. Bersandingan dengan kartu ucapan ulang tahun Tejo. Kedua benda dari orang yang dia sangat rindukan.

Kenangan ibunya hanya berasal dari cerita orang-orang desa. Dia tidak sempat memperoleh kenangan itu langsung. Terbersit rasa iri kepada ibunya yang sempat melihat putrinya, sedang ia tidak memperoleh kesempatan itu. Tejo merupakan satu-satunya penghibur tatkala dia menangis mengingat ibunya. Mas-nya akan menggendong Sari ke sawah kemudian diajaknya menangkap capung. Apabila tangisan itu terjadi malam hari, Tejo membawanya keluar rumah menuju perkebunan tebu belakang rumah yang penuh kunang-kunang. Kini, keduanya tidak berada berdampingan.

Terakhir kali dia melihat Mas-nya dijemput orang berseragam. “Kalau bapak pulang, bilang Mas Tejo diajak jadi tentara” pesan Tejo pada adiknya dengan tersenyum. Di depan rumah, Sari menyaksikan pelipur laranya menoleh menunjukkan senyum sembari melambai. Tentara dan Mas-nya berjalan ke arah desa. Ibunya tak mungkin kembali. Mas-nya menjadi tentara dan menyisihkan gaji untuk kado ulang tahunnya. Menjadi pasukan yang berjuang untuk negara dan keluarga.

***

Senja kian pudar. Rumah Parjo senyap saja. Rumah yang sudah dia dan anak perempuannya huni selama tiga tahun. Rumah baru meninggalkan rumah lama penuh kenangan. Kenangan bersama istri, Tejo, dan Sari itu dia buang. Esok lebih penting. Parjo rebahan di tempat tidur. Menatap genting-genting muram di atas kamarnya. Suara radio terdengar lirih dari ruang tengah. Ingatan pertengkaran dengan Tejo tak kuasa membendung air mata. Hidupnya sekarang lebih mapan dibanding tahun-tahun lampau.

Pemuda itu bernama Tejo. Umur dua puluh tahun. Tubuhnya tidak berotot namun bertenaga. Tampak lengannya telah ditempa dengan baik. Bukan tempaan seorang atlet nasional,  tapi pekerjaan sawah bersama sang Bapak yang telah membentuk lengannya. Ia halus, sopan, dan hormat pada orang tua. Pemuda desa dengan mimpi sederhana. Membahagiakan bapak dan adik perempuannya, Sari. Mereka adalah segala baginya. Yang diperintahkan sang Bapak bagai titah raja.

“Bapak saja. Saya enggan,” kata Tejo.

“Bapak ada kondangan. Di sana juga banyak pemuda,” kilah Parjo.

“Pacul Bapak juga masih bagus. Lagi pula ada muatan politis dalam pembagiannya,” ujar Tejo mencoba mengelak.

“Persediaan beras menipis. Nasi dari kondangan bisa sedikit menghemat,” kata Parjo pelan seusai meminum kopi panas buatan Sari.

Tejo paham maksud bapaknya itu. Dia hanya menunduk. Situasi yang tidak tentu membuat lapangan pekerjaan jadi terbatas. Tiap hari pekerjaannya adalah membantu bapaknya di sawah. Perekonomian petani juga ikut kembang kempis. Keluarga itu memutuskan aktif dalam kegiatan organisasi yang berada di bawah partai politik. Parjo yang berlatar belakang santri ikut organisasi keagamaan. Tejo beraktifitas di organisasi kepemudaan. Namun pemuda itu masih bingung di mana ia akan beraktifitas.

Esoknya, Tejo datang ke acara pembagian perkakas pertanian. Pada waktu pengisian daftar penerima, seorang penyelenggara mengajaknya mengikuti kajian Marxisme di balai desa. “Besok datang ya, Mas!” ajak penyelenggara. Tejo hanya menjawab dengan senyuman. Setelah itu dia pulang membawa pacul, sembako, dan sedikit uang.

Parjo sumringah melihat bawaan Tejo. Sari segera menaruh teh hangat di meja kayu. Tejo tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Sari. “Benar dugaanku” ucap Parjo.

“Besok saya diundang ikut kajian,” kata Tejo bersandar pada kursi.

“Kajian apa?” tanya Parjo.

“Lupa nama kajiannya,” jawab Tejo.

“Datang saja. Beberapa hari ke depan bapak pergi. Sementara kamu urus sawah sendiri,” kata Parjo.

“Kemana?” tanya Tejo.

“Reuni pondok, Mas!” sahut Sari dari arah dapur.

Malam itu mereka sekeluarga makan nasi dan lauk dari kondangan yang dihadiri Parjo. Di tengah pusaran politik yang semrawut, mereka bahagia makan seadanya. Tidak ada lagu dari gramofon yang menemani makan malam mereka, kecuali paduan suara dari gesekan tebu tertiup angin dan bunyi binatang malam adalah nada-nada yang menghibur.

Semenjak Parjo mengikuti reuni pondok, semakin sering dia berkunjung di pondok. Demikian pula Tejo yang makin aktif mengikuti kegiatan kepemudaan di desa. Kian serau bapak dan anak itu bercakap-cakap. Hingga pada sebuah malam, Tejo dan Parjo duduk berdua di depan rumah yang penuh cahaya bulan. Berteman kopi dan rokok. Sari tidur di kamarnya. Keduanya terdiam lama melihat sawah yang mulai tak terurus.

“Mengapa manusia hanya membela Tuhan?” tanya Tejo membuka percakapan.

“Dan mengapa manusia hanya membela sesama?” Parjo balik bertanya. Kemudian keduanya diam kembali. Mencoba mencari jawaban masing-masing dalam pikiran mereka.

“Apakah kita salah, Pak?” lanjut Tejo.

“Kita hanya bertahan hidup. Menyelamatkan keluarga,” jawab Parjo.

Percakapan itu dilanjutkan mengenai situasi politik yang baru mereka kenal. Perihal partai yang berebut pengaruh. Perihal peristiwa yang terjadi di masyarakat. Perihal rakyat yang makin bingung. Perihal pecahnya tentara republik. Dan perihal Sari.

“Saya ingin memberinya kado ketika dia berulang tahun,” kata Tejo.

“Tak usah. Lebih bijak jika engkau menemaninya,” ujar Parjo.

“Besok saya ada pertemuan di balai desa tetangga,” ucap Tejo, sambil meraih cangkir kopi.

“Jangan datang. Terlalu bahaya,” sergah Parjo. “Sudah sering adikmu sendirian. Hentikan aktifitasmu sementara,” lanjutnya.

“Bapak juga,” timpal Tejo. Parjo mengangguk pelan.

Samar terdengar suara langkah kaki menghampiri. Kabar kematian datang dari teman dekat Parjo di pondok. Parjo dimohon hadir pada acara pemakaman tersebut. Segera Parjo berkemas karena kediaman temannya lumayan jauh. Mimik Parjo meninggalkan ketegangan dalam diri Tejo. Parjo pergi, kokok ayam mengganti.

***

Acara pemakaman banyak dihadiri pria bersorban putih. “Pak, ikut saya,” ucap seorang pelayat, sambil menepuk pundak Parjo. Rasa herannya buyar dengan keterkejutan yang menghampiri. Dia mengikuti pemuda bersorban menjauh dari keramaian pelayat. “Ada yang ingin bertemu panjenengan,” kata pemuda itu datar. “Siapa?” tanya Parjo penasaran. Pemuda itu tidak menjawab dan langsung naik sebuah sepeda. Tanpa perintah Parjo membonceng.

Perjalanan itu membuat pantat Parjo kesemutan. Jalan yang dilalui tidak begitu bagus. Kerikil dan batu-batu mereka lalui. Nafas pemuda bersorban itu mulai terengah-engah kelelahan menggenjot sepeda. “Mas, masih jauh?” tanya Parjo. “Kalau capek biar gantian saya yang mengayuh,” lanjutnya. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir pemuda itu. Yang terdengar hanya nafas pemuda itu.

Mereka sampai di sebuah rumah berdinding bambu. Di teras terdapat banyak sendal. Pemuda itu masuk mengucapkan salam. Parjo mengikuti memberi salam. Orang-orang di dalam menjawab salam kedua tamu yang baru datang. Dia dapati guru pondok dan teman-temannya tersenyum. Gurunya memberikan ucapan terima kasih pada Parjo yang menyempatkan datang dari jauh.

Gurunya memaparkan situasi darurat. Beberapa jenderal diculik dan belum jelas nasibnya. Orang-orang atheis makin beringas kepada pemuka agama. Dia mencontohkan beberapa pemuka agama dibunuh karena melawan, salah satunya teman Parjo. Ibukota ketegangan menjalar dan serba tidak menentu.

“Kita harus mengambil sikap. Jangan sampai tanah kita dikuasai kaum atheis,” tegas Gurunya bergelora menahan amarah. Hadirin mengangguk-angguk sepakat.

Parjo permisi ke kamar mandi sebentar. Sedari tadi dia coba menahannya, namun segan pada pemuda bersorban itu. Segeralah dia menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah. Terpisah beberapa meter dari rumah tempat dia dan teman-teman pondok berkumpul. Samar-samar terdengar pekikan “Allah Akbar”. Ketika dia keluar dari kamar mandi pekikan itu semakin jelas berasal dari rumah yang dia singgahi. Parjo seketika melihat pemuda bersorban yang tadi memboncengkannya keluar dari pintu belakang. Napas pemuda itu tersenggal-senggal. Baju putih bersihnya berganti warna merah darah.

“Lari, Pak!” teriak pemuda itu.

Teman-temannya muncul lewat pintu belakang. Beberapa mencoba memapah pemuda itu, namun sia-sia. Akhirnya pemuda itu mereka tinggalkan. sia-sia pemuda itu.l-senggal. Baju putih bersihnya berganti warna merah darah.ngahi.____________________________________ Kebingungan menghinggapinya. Teman-temannya lari ketakutan.

“Jo, lari!” perintah seorang temannya.

Parjo berlari dan menoleh ke pemuda yang jatuh, tak kuat lari. Parjo lari dengan penuh pertanyaan. Dia lihat pemuda bersorban itu dibacok dengan arit oleh seseorang. “Ayo jo! Cepat!” teriak temannya tadi. Kali ini dia lari tanpa bertanya. Darah pemuda itu hinggap dalam benaknya. Dia coba menghilangkan kejadian yang baru saja dilihatnya dengan melihat teman-temannya di belakang. Parjo dan teman-temannya berhenti di pinggir jalan raya.

“Kita ke Jombang. Teman-teman banyak di sana,” kata temannya yang begigi tonggos, sambil mengatur napas.

“Apa yang terjadi?” tanya Parjo akhirnya.

“Puluhan orang atheis itu menyerang. Guru dan teman-teman dibacok,” ungkap salah seorang berkaus hijau.

“Harus lapor polisi. Ini pembunuhan.”

“Tidak. Militer masih abu-abu. Kita harus ke Jombang.”

“Aku harus pulang. Anak-anakku di rumah,” kata Parjo yang terbayang Tejo dan Sari di rumah.

“Di rumah terlalu bahaya, Jo. Ikutlah!” bujuk seorang teman.

Parjo hening sejenak. Dia marah guru pondok dan teman-temannya dibunuh. Pemuda itu juga, pikir Parjo. Dia sepakat untuk turut serta.

Dalam perjalanan Parjo tertidur pulas. Dia masih terbayang adegan pembacokan itu. Bibir si Pemuda berteriak minta tolong. Tak ada yang mendengar, termasuk Parjo. Dari gerak bibir, dia mengerti apa yang diteriakkan si Pemuda.

Selama dua minggu Parjo di Jawa Timur. Tinggal bersama temannya yang menjadi pemuka agama yang disegani. Selama itu pula pikirannya hanya tertuju pada anak-anaknya. Terdengar kabar anggota, simpatisan, dan keluarga pendukung kaum atheis dibantai. Hal tersebut menambah rasa gelisah hati Parjo. Orang-orang berpakaian hitam lalu lalang membawa senjata tajam. Mereka bersiap melakukan apel siaga. Tanda akan ada yang “di-sukabumi-kan”.

Sudah ratusan orang, Parjo dengan matanya sendiri melihat kaum atheis “di-sukabumi-kan”. Kini dia telah terbiasa melihat darah dan kepala lepas. Tindakan kaum atheis yang dianggapnya telah membunuh guru dan teman-temannya dan pelecehan kitab sucinya. Tak ada sedikit belas kasih Parjo saat menyaksikannya. Cerita-cerita kekejaman dan kurang ajarnya kaum atheis menambah amarahnya.

Gerimis malam tidak menghalangi niat algojo melanjutkan eksekusi. Parjo melihat eksekusi di belakang kerumunan algojo dan simpatisan pondok. Mereka membawa obor sebagai penerangan. Arus sungai mulai deras. Bulan itu curah hujan tinggi, sehingga sungai yang lebarnya antara 100-150 meter itu sering meluap.

“Cepat! Sungai sering meluap,” perintah seorang algojo dalam keremangan obor.

“Tinggal satu kelompok lagi,” ujar algojo lainnya.

Samar-samar Parjo melihat sesosok yang tidak begitu asing. Tubuh tegap, lengan kokoh dan sedikit kurus dari biasanya. Tangannya terikat tali. Parjo terus menatap sosok itu. Si pemuda menoleh dan pandangan mereka bertemu. Meskipun sekilas dan pencahayaan kurang, Tejo yakin itu bapaknya. Dia memberontak; lari menuju kerumunan.

“Bapak! Bapak! Tolong saya Bapak!” teriak Tejo, sambil lari ke arah simpatisan pondok. Beberapa algojo menangkap Tejo. “Tidak ada Bapakmu disini!” bentak algojo yang menangkap Tejo. Tejo tidak mau berbalik dan tetap duduk memandang ke arah simpatisan.

“Pak! Saya rajin sholat lima waktu, Pak! Kenapa tidak menolong putramu? Mengapa jenengan malah membela-Nya, bukan membela putramu sendiri?” rengek Tejo.

Mata anak dan bapak itu bertemu lagi. Lama Tejo diam. Mendelik geram melihat mata sendu sang bapak.

“Demi keluarga,” ujar Tejo berbisik menundukkan kepala.

“Eksekusi di sini saja,” kata algojo akhirnya menyerah.

Parjo tidak mampu bergerak sedikit pun. Dia menelan ludah. Seluruh tubuhnya dingin. Hatinya coba berontak untuk mendatangi putranya, tapi kakinya tak kunjung beranjak. Telinganya menuli. Di depan matanya putranya berteriak. Gerimis mengurangi pendengarannya. Di balik gerimis dan obor yang meredup, dia lihat pemenggalan putra kebanggaannya. Darah anaknya memudar oleh aliran air. Tubuhnya ditelan sungai. Kepala dengan senyum tipis itu pun raib oleh arus.

***

Sekarang, rasa bersalah itu bertambah. Dia telah membuat Sari percaya jika Mas-nya menjadi tentara dan membelikan kado untuknya. Kado yang dibelinya sendiri, dan meminta tolong pegawai toko menulis ucapan selamat ulang tahun. Setelah itu dimintanya pegawai pos kenalannya mengantarkan ke rumah, seolah berasal dari Tejo. Sari pun percaya. Parjo ingin jujur pada putrinya. Namun, jantungnya berdegup kencang. Napasnya tiba-tiba sesak. Nadi Parjo berhenti berdenyut.

“Pak, bangun!” teriak Sari mengguncang-guncang tubuh bapaknya.

“Pak, kado Mas Tejo sudah datang!” ucap Sari terus mencoba membangunkan.

“Bapakmu telah tiada, Nak,”  kata pegawai pos, sambil memeluk gadis kecil di sampingnya. “Tidak! Bapak hanya capek!” bantah gadis itu sembari melepaskan diri dalam pelukan dan lari ke kamarnya. Kemudian dia datang menyerahkan sepucuk surat kepada pegawai pos.

“Pak Pos, tolong kirim surat ini ke alamat Mas Tejo,” pinta Sari yang masih terisak.

Pengantar pos itu bingung. Dia menyeret langkahnya, seperti ada yang memberi beban di kakinya. Di luar rumah keluarga petani itu, ia membaca surat dari anak gadis Pak Parjo.

Banyak cerita bijak tentang hidup, kata mutiara dan motivasi serta kumpulan cerita inspiratif lainya di CeritaBijakMotivasi.Com yang bisa Anda baca dilain waktu seperti halnya cerita bijak Sepucuk Surat Keyakinan diatas Kawan!. Oh ya perlu di ketahui cerita inspirasi dan motivasi disitus ini merupakan sumbangan pengunjung serta dari banyak sumber, dan hak milik dari pengarang, pencipta serta penulis aslinya.

Setelah membaca cerita bijak Sepucuk Surat Keyakinan diatas, tentunya ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai media pembelajaran dan membuat hidup kita lebih baik bukan?, so jika Anda menyukai renungan ulang tahun anak sekolah minggu, cerita ulang tahun anak kristen, cerita anak sekolah minggu tentang bersyukur, renungan hut anak sekolah minggu, cerita sekolah minggu tentang ulang tahun, khotbah ulang tahun anak sekolah minggu, cerita ulang tahun anak sekolah minggu, cerita sekolah minggu untuk acara ulang tahun, cerita alkitab untuk hari ulang tahun, cerita hut anak sekolah minggu, renungan hari ulang tahun anak sekolah minggu, khotbah hut anak sekolah minggu, renungan ibadah hut anak sekolah minggu, cerita alkitab anak sekolah minggu yang berulang tahun, cerita sekolah minggu untuk anak yang berulang tahun, cerita ilustrasi ulang tahun anak sekolah minggu, cerita anak sekolah minggu yang berulang tahun, cerita anak sekolah minggu untuk hari ulang tahun, cerita alkitab untuk anak sekolah minggu yg berulang tahun, renungan ulang tahun sekolah cerita teladan dan kisah bijak ini, dan merasa berguna, silahkan beritahu teman anda dan orang lain dengan menyebarkannya lewat Facebook dengan meng KLIK tombol di bawah ini.

DISCLAIMER: Cerita bijak Sepucuk Surat Keyakinan disediakan untuk Anda sebagai inspirasi, motivasi, obat galau, hiburan semata, obat penghilang stress dan jenuh, oleh karena itu semoga cerita bijak motivasi Sepucuk Surat Keyakinan bisa di ambil hikmah dan manfaatnya untuk kebaikan bersama. Semua kumpulan cerita bijak, kisah inspiratif, kata bijak, serta kata mutiara lainya disitus ini, bisa jadi merupakan sumbangan pengunjung serta dari banyak sumber, dan hak milik dari pengarang, pencipta serta penulis aslinya.

OBAT jerawat Ampuh BPOM